PENDEKATAN PSIKOANALISIS
|
No.
|
Aspek
|
Keterangan
|
|
1.
|
Latar
Belakang
|
Dimulai
dari suatu metode penyembuhan penderita sakit jiwa, hingga menjadi sebuah
gagasan baru tentang manusia, psikoanalisis dianggap salah satu gerakan
revolusioner dalam bidang psikologi. Peletak dasar teori ini adalah Sigmund
Shlomo Freud yang dilahirkan di Moravia, Cekoslovakia pada tanggal 6 mei
1856, pada usia 4 tahun bersama keluarganya Freud pindah ke Wina, Austria.
Kondisi politik Austria saat itu membatasi ruang geraknya untuk bisa
meneruskan cita-citanya kuliah di fakultas hukum, sehingga Freud memutuskan
untuk mengambil jurusan kedokteran, dan pada usia 25 tahun dia telah lulus
dan bekerja di sebuah rumah sakit di kota Wina. Di sini Freud bertemu dengan
seorang dokter dokter spesialis syaraf bernama Josef Breuer, yang
sedang merawat seorang pasien dengan gejala-gejala histeria bernama Bertha
Pappenheim.
Pada
tahun 1885 Freud mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Paris selama 4 bulan
dan bertemu dengan Jean Charchot, seorang ahli syaraf dan hipnotis
berkebangsaan Jerman. Dari beliau, Freud belajar tentang penggunaan hipnotis
untuk menyembuhkan gejala-gejala histeria. Sepulangnya dari Paris, di Wina
Freud kembali bekerja sama dengan Breuer dan menghasilkan sebuah buku yang
sangat terkenal Studies of Hysteria (Freud & Breuer, 1895).
Buku
ini kemudian menjadi dasar bagi penelitian-penelitian Freud selanjutnya,
beliau pertama kali memperkenalkan istilah psikoanalisa pada tahun 1896.
Tulisan-tulisan Freud berikutnya pada periode tahun 1890-an banyak membahas
tentang pentingnya peningkatan kesadaran individu tentang kehidupan
seksualitasnya. Menurut Freud gejala-gejala histeria dan neurosis disebabkan
oleh pengalaman seksual yang traumatis pada masa kecil.
|
|
2.
|
Nama Tokoh
|
Sigmund
Freud (1856 – 1939) lahir 6 Mei 1856 di Freinberg dan meninggal di London 23
September 1939.
|
|
3.
|
Konsep
Dasar
|
a. Manusia secara esensial bersifat
biologis, terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif, sehingga perilaku
merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan itu.
b. Manusia bersifat tidak rasional, tidak
sosial dan destruktif terhadap dirinyadan orang lain. Libido mendorong
manusia ke arah pencarian kesenangan.
c. Di mana manusia dideterminasi oleh
kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan
dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-pristiwa
psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan.
d. Alam sadar adalah bagian kesadaran yang memiliki
fungsi mengingat, menyadari dan merasakan sesuatu secara sadar. Alam sadar
ini memiliki ruang yang terbatas dan saat individu menyadari berbagai
rangsangan yang ada di sekitar kita.
e. Alam prasadar yaitu bagian dasar yang
menyimpan ide, ingatan dan perasaan yang berfungsi mengantarkan ide, ingatan
dan perasaan tersebut ke alam sadar jika kita berusaha mengingatnya kembali.
f. Alam bawah sadar adalah bagian
dari dunia kesadaran yang terbesar dan sebagian besar yang terpenting dari
struktur psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya
yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan didalamnya.
g. Ketidakmampuan menaruh kepercayaan pada diri
sendiri dan pada orang lain.
h. Ketidakmampuan mengakui dan
mengungkapkan perasaan-perasaan benci dan marah, penyangkalan terhadap
kekuatan sendiri sebagai pribadi, dan kekurangan perasaan-perasaan otonom.
i. Ketidakmampuan menerima
sepenuhnya seksualitas dan perasaan seksual diri sendiri.
|
|
4.
|
Tujuan
Konseling
|
Tujuan
konseling psikoanalitik adalah untuk membentuk kembali struktur karakter
individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien.
Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali
pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata,
didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekontruksikan
kepribadian.
|
|
5.
|
Karakteristik
|
Satu
karakteristik konseling ini adalah bahwa terapi atau analisa bersikap
anonim(tak dikenal) dan bertindak dengan sangat sedikit menunjukan perasaan
dan pengalamanya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaanya
kepada konselor. Konselor terutam berkenaan dengan membantu klien mencapai
kesadaran diri, ketulusan hati, dan berhubungan pribdi yang lebih efektif,
dalam menghadapi kecemasan melaui cara-cara realistis.
|
|
6.
|
Peran&Fungsi
Konselor
|
Peran
konselor dalam konseling ini adalah :
a. Membantu konseli dalam mencapai
kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam
menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta dalam rangka
memperoleh kembali kendali atas tingkah lakunya yang impulsif dan irasional.
b. Konselor membangun
hubungan kerja sama dengan konseli dan kemudian melakukan serangkaian
kegiatan mendengarkan dan menafsirkan.
c. Konselor juga memberikan perhatian
kepada resistensi konseli untuk mempercepat proses penyadaran hal-hal yang
tersimpan dalam ketidaksadaran.
d. Konselor juga harus peka terhadap
isyarat-isyarat non verbal dari konseli.
Fungsi
utama konselor adalah mengajarkan proses arti proses kepada konseli agar
mendapatkan pemahaman terhadap masalahnya sendiri, mengalami peningkatan
kesadaran atas cara-cara berubah, sehingga konseli mampu mendapatkan kendali
yang lebih rasional atas hidupnya sendiri.
|
|
7.
|
Hubungan
Konselor
|
Dalam
konseling psikoanalisis terdapat 3 bagian hubungan konselor dengan klien,
yaitu:
a. Aliansi
yaitu sikap
klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak neurosis
(merupakan prakondisi untuk terwujudnya keberhasilan konseling).
b. Transferensi
pengalihan
segenap pengalaman klien di masa lalunya terhadap orang-orang yang
menguasainya, yang ditujukan kepada konselor, merupakan bagian dari hubungan
yang sangat penting untuk dianalisis, membantu klien untuk mencapai pemahaman
tentang bagaimana dirinya telah salah dalam
menerima, menginterpretasikan, dan merespon
pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.
c. Kontratransferensi
Yaitu
kondisi dimana konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras
dan berasal dari konflik-konfliknya sendiri. Kontratransferensi bisa terdiri
dari perasaan tidak suka, atau justru keterikatan
atau keterlibatan yang berlebihan, kondisi ini dapat menghambat
kemajuan proses konseling karena konselor akan lebih terfokus pada masalahnya
sendiri. Konselor harus menyadari perasaaannya terhadap klien dan mencegah
pengaruhnya yang bisa merusak. Konselor diharapkan untuk bersikap relatif
obyektif dalam menerima kemarahan, cinta, bujukan, kritik, dan emosi-emosi
kuat lainnya dari konseli.
|
|
8.
|
Tahap
Konseling
|
Secara
sistematis proses konseling yang dikemukakan dalam urutan fase-fase konseling
dapat diikuti berikut ini:
1. Membina hubungan konseling yang terjadi pada
tahap awal konseling.
2. Tahap krisis bagi klien yaitu
kesukaran dalam mengemukakan masalahnya, dan melakukan transferensi.
3. Tilikan terhadap masa lalu klien
terutama pada masa kanak-kanaknya.
4. Pengembangan
resistensi untuk pemahaman diri.
5. Pengembangan
hubungan transferensi klien dengan konselor.
6. Melanjutkan
lagi hal-hal yang resistensi.
7. Menutup
wawancara konseling.
|
|
9.
|
Teknik
Koneling
|
Ada lima
teknik dasar dari konseling psikoanalisis yaitu:
1. Asosiasi Bebas
Yaitu
klien diupayakan untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam
pengalaman dan pemikirannya sehari-hari, sehingga klien mudah mengungkapkan
pengalaman masa lalunya.
2. Interpretasi
Yaitu
teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi,
resistensi, dan transferensi klien.
3. Analisis Mimpi
Yaitu
suatu teknik untuk membuka hal-hal yang tak disadari dan memberi kesempatan
klien untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4. Analisis Resistensi
Analisis
resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan
terjadinya resistensi.
5. Analisis Transferensi
Konselor
mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar terungkap
neurosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama hidupnya.
|
|
10.
|
Kelebihan
& Kelemahan
|
Kelemahan
dari pendekatan ini adalah:
1. Pandangan yang terlalu
determistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan.
2. Terlalu banyak menekankan kepada masa
kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan
oleh masa lalu. Hal ini memberikan gambaran
seolah-olah tanggung jawab individu berkurang.
3. Cenderung
meminimalkan rasionalitas.
4. Kurang
efisien dari segi waktu dan biaya
Kelebihan
dari pendekatan ini adalah:
1. Penggunaan
terapi wicara
2. Kehidupan mental individu
menjadi bisa dipahami, dan dapat memahami sifat manusia untuk meredakan
penderitaan manusia.
3. Pendekatan ini dapat mengatasi
kecemasan melalui analisis atas mimpi-minpi, resistensi-resistensi dan
transferensi-trasnferensi.
4. Pendekatan ini memberikan kepada
konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk
memahami sumber-sumber dan fungsi simptomatologi.
|
PENDEKATAN BEHAVIORISTIK
|
No.
|
Aspek
|
Keterangan
|
|
1.
|
Latar
Belakang
|
Pada
awalnya behaviorisme lahir di Rusia dengan tokohnya Ivan Pavlov, namun
pada saat yang hampir bersamaan di Amerika behaviorisme muncul dengan salah
satu tokoh utamanya John B. Watson. Watson memandang Inti dari behaviorisme
adalah memprediksi dan mengontrol perilaku. Karyanya diawali dengan
artikelnya psychology as the behaviorist views it pada tahun 1913. Di dalam
artikelnya tersebut Watson mengemukakan pandangan behavioristiknya yang
membantah pandangan strukturalisme dan fungsionalisme tentang kesadaran.
Menurut Watson (behaviorist view) yang dipelajari adalah perilaku yang dapat
diamati, bukan kesadaran, karena kesadaran adalah sesuatu
yang tidak dapat diobservasi secara
langsung, secara nyata. Metode-metode obyektif Watson
lebih banyak menyukai studi mengenai binatang dan anak-anak, seperti sebuah
studi yang ia lakukan dalam pengkondisian rasa takut pada anak-anak.
|
|
2.
|
Nama Tokoh
|
John
Broadus Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus
Frederic Skinner.
|
|
3.
|
Konsep
Dasar
|
Perilaku
dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan
internal. Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi
dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin. Kontribusi terbesar
konseling behavioral adalah bagaimana memodifikasi perilaku melalui rekayasa
lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan perilaku.
Dasar
teori konseling behavior adalah bahwa perilaku dapat dipahami sebagai hasil
kombinasi :
a. Belajar waktu lalu hubungannya
dengan keadaan yang serupa
b. Keadaan motivasional sekarang dan
efeknya terhadap kepekaan lingkungan
c. Perbedaan-perbedaan biologic baik
secara genetic atau karena gangguan fisiologik.
|
|
4.
|
Tujuan
Konseling
|
a. Menciptakan kondisi-kondisi baru
bagi proses belajar
b. Penghapusan hasil belajar yang
tidak adaptif
c. Memberi pengalaman belajar yang
adaptif namun belum dipelajari
d. Membantu konseli membuang
respon-respon yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari
respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
e. Konseli belajar perilaku baru dan
mengeliminasi perilaku yang maladaptive, memperkuat serta mempertahankan
perilaku yang diinginkan.
f. Penetapan tujuan dan tingkah laku
serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor.
|
|
5.
|
Karakteristik
|
Karakter
konseling behavior adalah sebagai berikut:
a. Kebanyakan perilaku manusia dapat
dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
b. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individual dapat
membantu dalam merubah perilaku-perilaku yang relevan; prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang
relevan dalam perilaku konseli dengan merubah lingkungan.
c. Prinsip-prinsip belajar sosial, seperti
misalnya “reinforcement” dan “social
modeling”, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur
konseling.
d. Keefektifan konseling dan hasil
konseling dinilai dari perubahan-perubahan dalam perilaku-perilaku khusus
konseli diluar dari layanan konseling yang diberikan.
e. Prosedur-prosedur konseling tidak statik, tetap, atau ditentukan
sebelumnya, tetapi dapat secara khusus didisain untuk membantu konseli
dalam memecahkan masalah khusus.
|
|
6.
|
Peran
& Fungsi Konselor
|
Menurut
Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkahlaku harus memainkan peran
aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia,
para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru,
pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam
menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada
tingkahlau yang baru dan adjustive.
|
|
7.
|
Hubungan
Konselor
|
Dalam
kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini
bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan
masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang
baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian
pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli.
Dalam
hubungan konselor dengan konseli ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu
:
1. Konselor
memahami dan menerima konseli
2. Antara
konselor dan konseli saling bekerjasama
3. Konselor memberikan
bantuan dalam arah yang diinginkan konseli.
|
|
8.
|
Tahap
Konseling
|
Ada
4 tahap dalam proses konseling, yaitu :
1. Melakukan Assesment
Langkah
awal kerja konselor adalah melakukan asesmen. Assesment diperlukan untuk
mengidentifikasi metode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan
tingkah laku yang ingin diubah.
2. Menetapkan Tujuan (Goal Setting)
Dalam hal
ini Konselor dan konseli bersama-sama mendiskusikan tujuan yang telah
ditetapkan konseli, yang terkait dengan :
a. apakah
merupakan tujuan yang benar-benar diinginkan konseli
b. apakah
tujuan itu realistik
c. bagaimana
kemungkinan manfaatnya
d. bagaimana
kemungkinan kerugiannya.
3. Implementasi Teknik (Technique
Implementation)
Konselor dan konseli
mengimplementasikan teknik-teknik konseling sesuai dengan masalah yang
dialami konseli. Dalam implimentasi teknik konselor membandingkan perubahan
tingkah laku antara baseline data dengan intervensi.
4. Evaluasi dan
Pengakhiran
Evaluasi
konseling behavioral merupakan proses yang berkesinambungan. Tingkah laku
konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan
efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan. Dalam hal ini konselor dan
konseli mengevaluasi implementasi teknik yang telah dilakukan serta
menentukan lamanya intervensi dilaksanakan sampai tingkah laku yang
diharapkan menetap.
|
|
9.
|
Teknik
Konseling
|
a. Latihan Asertif (Assertive
training), yaitu konseling yang menitik beratkan pada kasus yang mengalami
kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya
b. Terapi Aversi (Aversion therapy ),
Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat
perilaku yang positif.
c. Terapi implosif dan pembanjiran,
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang
tanpa pemberian penguatan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil
kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan
kecemasan klien.
d. Pekerjaan Rumah (Home work),
Teknik ini berbentuk suatu latihan/ tugas rumah bagi klien yang kurang mampu
menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu, caranya dengan memberikan tugas
rumah (untuk satu minggu).
|
|
10.
|
Kelebihan
& Kekurangan
|
Kelebihan
:
1. Telah mengembangkan konseling
sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan IPTEK kepada proses
konseling
2. Pengembangan prilaku yang spesifik
sebagai hasil konseling yang dapat diukur
3. Memberikan ilustrasi bagaimana
keterbatasan lingkungan
4. Penekanan bahwa konseling
hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan prilaku yang ada dimasa
lalu.
Kekurangan
:
1. Bersifat dingin, kurang menyentuh
aspek pribadi sifat manipulatif dan mengabaikan hubungan pribadi
2. Lebih konsentrasi pada teknik
3. Pemilihan tujuan sering ditentukan
oleh konselor
4. Meskipun konselor behaviour
menegaskan klien unik dan menuntut perlakuan yang spesifik tapi masalah klien
sering sama dengan klien yang lain dan karena itu tidak menuntut strategi
konseling.
5. Konstruk belajar dikembangkan dan
digunakan konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menjelaskan
belajar dan harus dipandang hanya sebagai hipotesis harus dites.
6. Perubahan klien hanya berupa
gejala yan dapat berpindah kepada bentuk perilaku lain.
|
PENDEKATAN HUMANISTIK
|
No.
|
Aspek
|
Keterangan
|
|
1.
|
Latar
Belakang
|
Psikologi
Humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun
1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang
pada abad pertengahan. Pendekatan humanistik muncul karena ketidakcocokan
dengan paradigma pendekatan Behavioristik. Kehadiran psikologi humanistik
muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme seta
dipandang sebagai ” kekuatan ketiga ” dalam aliran psikologi.
· Psikoanalisis ” Sigmun Freud ” :
berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan
kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Psikoanalisis
berkeyakinan bahwa prilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak
sadar dalam diri .
· Behaviorisme ” Ivan Pavlov ” :
meyakini bahwa semua prilaku dikendalikan oleh faktor eksternal dari
lingkungan .
· Humanistik ” Abraham Maslow ” :
memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi yang dimiliki manusia,
hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan
aktualisasi diri seseorang .
|
|
2.
|
Nama Tokoh
|
Abraham
Maslow dilahirkan dan dibesarkan di Brooklyn, New York, 1 April 1908
|
|
3.
|
Konsep
Dasar
|
1. Memandang manusia sebagai individu
yang unik. Manusia merupakan seseorang yang ada, sadar dan waspada akan
keberadaannya sendiri. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan
segala kreatifitasnya, menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya.
2. Manusia sebagai makhluk hidup yang
dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan,
dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab
atas segala tindakannya.
3. Manusia tidak pernah statis, ia selalu
menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani
menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri.
4. Setiap orang memiliki potensi
kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi
universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
|
|
4.
|
Tujuan
Konseling
|
1. Mengoptimalkan kesadaran individu
akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. “Saya adalah
saya”.
2. Memperbaiki dan mengubah sikap,
persepsi cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan individu, yang
unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat
mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin.
3. Menghilangkan hambatan-hambatan
yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya.
4. Membantu individu dalam menemukan
pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya.
|
|
5.
|
Karakteristik
|
Konseling
eksistensialisme berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta,
yang mencakup :kemampuan kesadaran diri, kebebasan untuk memilih dan
menentukan nasib hidupnya sendiri, tanggung jawab pribadi, kecemasan sebagai
unsur dasar dalam kehidupan batin, usaha untuk menemukan makna dari kehidupan
manusia.keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain, kematian; serta
kecenderungan dasar untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin (winkel
453;2007).
Pendekatan
humanistik percaya pada kehendak bebas, bahwa individu secara sadar atau
tidak sadar membuat keberadaan mereka dan, bila diberikan pada keadaan yang
tepat, dapat menciptakan kembali keberadaan mereka-dengan kata lain,
perubahan. Sebagian besar pendekatan eksistensial-humanistik percaya bahwa
ada kecenderungan bawaan bagi individu untuk mengaktualisasikan diri untuk
memenuhi potensi mereka jika mereka diberikan lingkungan yang kondusif untuk
pertumbuhan (Maslow, 1968, 1970).
|
|
6.
|
Peran
& Fungsi Konselor
|
1. Memahami dunia klien dan membantu
klien untuk berfikir dan mengambil keputusan atas pilihannya yang sesuai
dengan keadaan sekarang.
2. Mengembangkan kesadaran, keinsafan
tentang keberadaannya sekarang agar klien memahami dirinya bahwa manusia
memiliki keputusan diri sendiri.
3. Konselor sebagai fasilitator
memberi dorongan dan motivasi agar klien mampu memahami dirinya
dan bertanggung jawab menghadapi reality.
4. Membentuk kesempatan seluas –
luasnya kepada klien, bahwa putusan akhir pilihannya terletak ditangan klien.
|
|
7.
|
Hubungan
Konselor
|
1. Adanya hubungan psikologis yang
akrab antara konselor dan klien.
2. Adanya kebebasan secara penuh bagi
individu untuk mengemukakan problemnya dan apa yang diinginkan.
3. Konselor berusaha sebaik mungkin
menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan
sanggahan.
4. Unsur menghargai dan menghormati
keadaan diri individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam
hubungan yang diadakan.
5. Pengenalan tentang keadaan
individu sebelumnya juga keadaan lingkungannya sangat diperlukan oleh
konselor.
|
|
8.
|
Tahap
Konseling
|
1. Tahap Awal
Konselor
membantu klien dalam hal mengidentifikasi dan mengklarifikassi asumsi mereka
terhadap dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menanyakan tentang cara
mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima. Konselor mengajar
mereka bagaimana caranya untuk becermin pada eksistensi mereka sendiri dan
meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
2. Tahap Pertengahan
klien
didorong semangatnya untuk lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari
system nilai mereka. Proses eksplorasi diri ini biasanya membawa klien ke
pemahaman baru dan beberapa restrukturisasi dari nilai dan sikap mereka.
Klien mendapatkan cita rasa yang lebih baik akan jenis kehidupan macam apa
yang mereka anggap pantas.
3. Tahap Akhir
menolong
klien untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri
mereka sendiri. Sasaran terapi adalah memungkinkan klien untuk bisa mencari
cara pengaplikasian nilai hasil penelitian dan internalisasi dengan jalan yang
kongkrit. Biasanya klien menemukan kekuatan mereka dan menemukan jalan untuk
menggunakan kekuatan itu demi menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki
tujuan.
|
|
9.
|
Teknik
Konseling
|
Teknik-teknik
yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1. Penerimaan
2. Rasa
hormat
3. Memahami
4. Menentramkan
5. Memberi
dorongan
6. Pertanyaan
terbatas
7. Memantulkan
pernyataan dan perasaan klien
8. Menunjukan sikap yang mencerminkan
ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9. Bersikap
mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.
|
|
10.
|
Kelebihan
& Kelemahan
|
Kelebihan :
1. Selalu mengedepankan akan hal-hal
yang bernuansa demokratis, partisipatif-dialogis dan humanis.
2. Suasana pembelajaran yang saling
menghargai, adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.
3. Keterlibatan peserta didik dalam
berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama
(komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya mempunyai
pandangan yang berbeda-beda.
Kelemahan :
1. Teori humanistik tidak bisa diuji
dengan mudah.
2. Banyak konsep dalam psikologi
humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil mengaktualisasikan
dirinya, ini masih buram dan subjektif.
3. Psikologi humanistik mengalami
pembiasan terhadap nilai individualistis
4. Bersifat individual
5. Proses belajar tidak akan berhasil
jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung
6. Sulit diterapkan dalam konteks
yang lebih praktis
7. Peserta didik kesulitan dalam
mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri meraka
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar