Selasa, 08 Juli 2014

Lirik Jo Nathan - Sakit Hati


Kau bilang cuma aku saja
Yang bisa bahagiakan engkau
Kau bilang ku cinta matimu
Tapi kau tinggalkanku

Sakit hati ini saat aku tahu
Kau tega khianati aku
Sakit hati ini saat engkau pergi
Tak sanggup hancurkan semua
Mimpi kita bersama

Dulu aku kau puja puja
Kini dimana kau berada
Kau bilang ku cinta matimu
Tapi kau tinggalkanku
Tuhan ...

Begitu mudahnya kau
Khianati cinta kita
Sakit yang ku rasakan
Begitu luar biasa

Sakit hati ini saat aku tahu
Kau tega khianati aku
Sakit hati ini saat engkau pergi
Tak sanggup hancurkan semua

Sakit hati ini saat aku tahu
Kau tega khianati aku
Sakit hati ini saat engkau pergi
Tak sanggup hancurkan semua
Mimpi kita bersama

Dulu aku kau puja puja
Kini dimana kau berada

Pendekatan Konseling



PENDEKATAN PSIKOANALISIS

No.
Aspek
Keterangan
1.
Latar Belakang
    Dimulai dari suatu metode penyembuhan penderita sakit jiwa, hingga menjadi sebuah gagasan baru tentang manusia, psikoanalisis dianggap salah satu gerakan revolusioner dalam bidang psikologi. Peletak dasar teori ini adalah Sigmund Shlomo Freud yang dilahirkan di Moravia, Cekoslovakia pada tanggal 6 mei 1856, pada usia 4 tahun bersama keluarganya Freud pindah ke Wina, Austria. Kondisi politik Austria saat itu membatasi ruang geraknya untuk bisa meneruskan cita-citanya kuliah di fakultas hukum, sehingga Freud memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran, dan pada usia 25 tahun dia telah lulus dan bekerja di sebuah rumah sakit di kota Wina. Di sini Freud bertemu dengan seorang dokter dokter spesialis syaraf bernama Josef Breuer,  yang sedang merawat seorang pasien dengan gejala-gejala histeria bernama Bertha Pappenheim.
      Pada tahun 1885 Freud mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Paris selama 4 bulan dan bertemu dengan Jean Charchot, seorang ahli syaraf dan hipnotis berkebangsaan Jerman. Dari beliau, Freud belajar tentang penggunaan hipnotis untuk menyembuhkan gejala-gejala histeria. Sepulangnya dari Paris, di Wina Freud kembali bekerja sama dengan Breuer dan menghasilkan sebuah buku yang sangat terkenal Studies of Hysteria (Freud & Breuer, 1895).
      Buku ini kemudian menjadi dasar bagi penelitian-penelitian Freud selanjutnya, beliau pertama kali memperkenalkan istilah psikoanalisa pada tahun 1896. Tulisan-tulisan Freud berikutnya pada periode tahun 1890-an banyak membahas tentang pentingnya peningkatan kesadaran individu tentang kehidupan seksualitasnya. Menurut Freud gejala-gejala histeria dan neurosis disebabkan oleh pengalaman seksual yang traumatis pada masa kecil.
2.
Nama Tokoh
Sigmund Freud (1856 – 1939) lahir 6 Mei 1856 di Freinberg dan meninggal di London 23 September 1939.
3.
Konsep Dasar
a.  Manusia secara esensial bersifat biologis, terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif, sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan itu.
b.  Manusia bersifat tidak rasional, tidak sosial dan destruktif terhadap dirinyadan orang lain. Libido mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan.
c. Di mana manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-pristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan.
d. Alam sadar adalah bagian kesadaran yang memiliki fungsi mengingat, menyadari dan merasakan sesuatu secara sadar. Alam sadar ini memiliki ruang yang terbatas dan saat individu menyadari berbagai rangsangan yang ada di sekitar kita.
e.  Alam prasadar yaitu bagian dasar yang menyimpan ide, ingatan dan perasaan yang berfungsi mengantarkan ide, ingatan dan perasaan tersebut ke alam sadar jika kita berusaha mengingatnya kembali.
f.   Alam bawah sadar adalah bagian dari dunia kesadaran yang terbesar dan sebagian besar yang terpenting dari struktur psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan didalamnya.
g. Ketidakmampuan menaruh kepercayaan pada diri sendiri dan pada orang lain.
h.   Ketidakmampuan mengakui dan mengungkapkan perasaan-perasaan benci dan marah, penyangkalan terhadap kekuatan sendiri sebagai pribadi, dan kekurangan perasaan-perasaan otonom.
i.    Ketidakmampuan menerima sepenuhnya seksualitas dan perasaan seksual diri sendiri.
4.
Tujuan Konseling
Tujuan konseling psikoanalitik adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekontruksikan kepribadian.
5.
Karakteristik
Satu karakteristik konseling ini adalah bahwa terapi atau analisa bersikap anonim(tak dikenal) dan bertindak dengan sangat sedikit menunjukan perasaan dan pengalamanya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaanya kepada konselor. Konselor terutam berkenaan dengan membantu klien mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan berhubungan pribdi yang lebih efektif, dalam menghadapi kecemasan melaui cara-cara realistis.
6.
Peran&Fungsi Konselor
 Peran konselor dalam konseling ini adalah :
a.       Membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta dalam rangka memperoleh kembali kendali atas tingkah lakunya yang impulsif dan irasional.
b.      Konselor  membangun hubungan kerja sama dengan konseli dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan.
c.       Konselor juga memberikan perhatian kepada resistensi konseli untuk mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran.
d.      Konselor juga harus peka terhadap isyarat-isyarat non verbal dari konseli.
Fungsi utama konselor adalah mengajarkan proses arti proses kepada konseli agar mendapatkan pemahaman terhadap masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara berubah, sehingga konseli mampu mendapatkan kendali yang lebih rasional atas hidupnya sendiri.
7.
Hubungan Konselor
     Dalam konseling psikoanalisis terdapat 3 bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu:
a.   Aliansi 
yaitu  sikap klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik, dan tidak neurosis (merupakan prakondisi untuk terwujudnya keberhasilan konseling).
b.  Transferensi
pengalihan segenap pengalaman klien di masa lalunya terhadap orang-orang yang menguasainya, yang ditujukan kepada konselor, merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis, membantu klien untuk mencapai pemahaman tentang  bagaimana dirinya telah salah dalam menerima,  menginterpretasikan,   dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.
c.   Kontratransferensi
Yaitu kondisi dimana konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras dan berasal dari konflik-konfliknya sendiri. Kontratransferensi bisa terdiri dari perasaan tidak suka, atau justru keterikatan atau  keterlibatan yang berlebihan, kondisi ini dapat menghambat kemajuan proses konseling karena konselor akan lebih terfokus pada masalahnya sendiri. Konselor harus menyadari perasaaannya terhadap klien dan mencegah pengaruhnya yang bisa merusak. Konselor diharapkan untuk bersikap relatif obyektif dalam menerima kemarahan, cinta, bujukan, kritik, dan emosi-emosi kuat lainnya dari konseli.
8.
Tahap Konseling
     Secara sistematis proses konseling yang dikemukakan dalam urutan fase-fase konseling dapat diikuti berikut ini:
1. Membina hubungan konseling yang terjadi pada tahap awal konseling.
2.  Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya, dan melakukan transferensi.
3.  Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya.
4.     Pengembangan resistensi untuk pemahaman diri.
5.     Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
6.     Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
7.     Menutup wawancara konseling.
9.
Teknik Koneling
Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisis yaitu:
1.   Asosiasi Bebas
Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikirannya sehari-hari, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.
2.   Interpretasi
Yaitu teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien.
3.   Analisis Mimpi
Yaitu suatu teknik untuk membuka hal-hal yang tak disadari dan memberi kesempatan klien untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan.
4.   Analisis Resistensi
Analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensi.
5.  Analisis Transferensi
Konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neurosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama hidupnya.
10.
Kelebihan & Kelemahan
Kelemahan dari pendekatan ini adalah:
1.   Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan.
2.  Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh  masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah  tanggung jawab individu berkurang.
3.       Cenderung meminimalkan rasionalitas.
4.       Kurang efisien dari segi waktu dan biaya

Kelebihan dari pendekatan ini adalah:
1.       Penggunaan terapi wicara
2.   Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapat memahami sifat manusia untuk meredakan penderitaan manusia.
3.   Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atas mimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.
4.  Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahami sumber-sumber dan fungsi simptomatologi.



PENDEKATAN BEHAVIORISTIK

No.
Aspek
Keterangan
1.
Latar Belakang
        Pada awalnya behaviorisme lahir di Rusia dengan tokohnya Ivan Pavlov, namun pada  saat  yang  hampir  bersamaan  di  Amerika  behaviorisme  muncul  dengan  salah satu tokoh utamanya John B. Watson. Watson memandang Inti dari behaviorisme adalah memprediksi dan mengontrol perilaku. Karyanya diawali dengan artikelnya psychology as the behaviorist views it pada tahun 1913. Di dalam artikelnya tersebut Watson mengemukakan pandangan behavioristiknya yang membantah pandangan strukturalisme dan fungsionalisme tentang kesadaran. Menurut Watson (behaviorist view) yang dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran, karena kesadaran adalah sesuatu yang  tidak  dapat  diobservasi  secara langsung,  secara  nyata. Metode-metode obyektif Watson lebih banyak menyukai studi mengenai binatang dan anak-anak, seperti sebuah studi yang ia lakukan dalam pengkondisian rasa takut pada anak-anak.
2.
Nama Tokoh
John Broadus Watson  pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner.
3.
Konsep Dasar
Perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan internal. Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin. Kontribusi terbesar konseling behavioral adalah bagaimana memodifikasi perilaku melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan perilaku.
Dasar teori konseling behavior adalah bahwa perilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi :
a.       Belajar waktu lalu hubungannya dengan keadaan yang serupa
b.      Keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap kepekaan lingkungan
c.       Perbedaan-perbedaan biologic baik secara genetic atau karena gangguan fisiologik.
4.
Tujuan Konseling
a.       Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar
b.      Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif
c.       Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari
d.      Membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
e.       Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptive, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
f.       Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor.
5.
Karakteristik
Karakter konseling behavior adalah sebagai berikut:
a.       Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari dan karena itu dapat dirubah.
b.      Perubahan-perubahan  khusus  terhadap  lingkungan  individual dapat membantu  dalam  merubah  perilaku-perilaku  yang  relevan; prosedur-prosedur  konseling  berusaha  membawa  perubahan-perubahan  yang relevan dalam perilaku konseli dengan merubah lingkungan.
c.       Prinsip-prinsip  belajar  sosial,  seperti misalnya  “reinforcement”  dan  “social modeling”,  dapat  digunakan  untuk  mengembangkan  prosedur-prosedur konseling.
d.      Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan-perubahan dalam perilaku-perilaku khusus konseli diluar dari layanan  konseling yang diberikan.
e.       Prosedur-prosedur  konseling  tidak  statik,  tetap,  atau  ditentukan   sebelumnya,  tetapi  dapat  secara  khusus  didisain  untuk  membantu  konseli dalam memecahkan masalah khusus.
6.
Peran & Fungsi Konselor
Menurut Corey (2003: 205) menyatakan bahwa terapis tingkahlaku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yaitu terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, ahli dalam mendiagnosis tingkahlaku yang maladatif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan mengarah pada tingkahlau yang baru dan adjustive.
7.
Hubungan Konselor
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sistem dan prosedur konseling behavioral amat terdefinisikan, demikian pula peranan yang jelas dari konselor dan konseli.
     Dalam hubungan konselor dengan konseli ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu :
1.    Konselor memahami dan menerima konseli
2.    Antara konselor dan konseli saling bekerjasama
3.    Konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan konseli.
8.
Tahap Konseling
Ada 4  tahap dalam proses konseling, yaitu :
1.      Melakukan Assesment
Langkah awal kerja konselor adalah melakukan asesmen. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi metode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.
2.      Menetapkan Tujuan (Goal Setting)
Dalam hal ini Konselor dan konseli bersama-sama mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan konseli, yang terkait dengan :
      a.    apakah merupakan tujuan yang  benar-benar diinginkan konseli
      b.   apakah tujuan itu realistik
      c.    bagaimana kemungkinan manfaatnya
      d.   bagaimana kemungkinan kerugiannya.
3.      Implementasi Teknik (Technique Implementation)
     Konselor dan konseli mengimplementasikan teknik-teknik konseling sesuai dengan masalah yang dialami konseli. Dalam implimentasi teknik konselor membandingkan perubahan tingkah laku antara baseline data dengan intervensi.
4.      Evaluasi  dan Pengakhiran
Evaluasi konseling behavioral merupakan proses yang berkesinambungan. Tingkah laku konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan. Dalam hal ini konselor dan konseli mengevaluasi implementasi teknik yang telah dilakukan serta menentukan lamanya intervensi dilaksanakan sampai tingkah laku yang diharapkan menetap.
9.
Teknik Konseling
a.       Latihan Asertif (Assertive training), yaitu konseling yang menitik beratkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya
b.      Terapi Aversi (Aversion therapy ), Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku yang positif.
c.       Terapi implosif dan pembanjiran, Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian penguatan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien.
d.      Pekerjaan Rumah (Home work), Teknik ini berbentuk suatu latihan/ tugas rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu, caranya dengan memberikan tugas rumah (untuk satu minggu).
10.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan :
1.      Telah mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan IPTEK kepada proses konseling
2.      Pengembangan prilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur
3.      Memberikan ilustrasi bagaimana keterbatasan lingkungan
4.      Penekanan bahwa konseling hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan prilaku yang ada dimasa lalu.

Kekurangan :
1.      Bersifat dingin, kurang menyentuh aspek pribadi sifat manipulatif dan mengabaikan hubungan pribadi
2.      Lebih konsentrasi pada teknik
3.      Pemilihan tujuan sering ditentukan oleh konselor
4.      Meskipun konselor behaviour menegaskan klien unik dan menuntut perlakuan yang spesifik tapi masalah klien sering sama dengan klien yang lain dan karena itu tidak menuntut strategi konseling.
5.      Konstruk belajar dikembangkan dan digunakan konselor behavioral tidak cukup komprehensif untuk menjelaskan belajar dan harus dipandang hanya sebagai hipotesis harus dites.
6.      Perubahan klien hanya berupa gejala yan dapat berpindah kepada bentuk perilaku lain.



PENDEKATAN HUMANISTIK

No.
Aspek
Keterangan
1.
Latar Belakang
Psikologi Humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pendekatan humanistik muncul karena ketidakcocokan dengan paradigma pendekatan Behavioristik. Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme seta dipandang   sebagai ” kekuatan ketiga ” dalam aliran psikologi.
·         Psikoanalisis ” Sigmun Freud ” : berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Psikoanalisis berkeyakinan bahwa prilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dalam diri .
·         Behaviorisme ” Ivan Pavlov ” : meyakini bahwa semua prilaku dikendalikan oleh faktor eksternal dari lingkungan .
·         Humanistik ” Abraham Maslow ” : memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi yang dimiliki manusia, hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang .
2.
Nama Tokoh
Abraham Maslow dilahirkan dan dibesarkan di Brooklyn, New York, 1 April 1908
3.
Konsep Dasar
1.      Memandang manusia sebagai individu yang unik. Manusia merupakan seseorang yang ada, sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya, menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya.
2.      Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.
3.      Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri.
4.      Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
4.
Tujuan Konseling
1.      Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. “Saya adalah saya”.
2.      Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin.
3.      Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya.
4.      Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya.
5.
Karakteristik
        Konseling eksistensialisme berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta, yang mencakup :kemampuan kesadaran diri, kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnya sendiri, tanggung jawab pribadi, kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin, usaha untuk menemukan makna dari kehidupan manusia.keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain, kematian; serta kecenderungan dasar untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin (winkel 453;2007).
       Pendekatan humanistik percaya pada kehendak bebas, bahwa individu secara sadar atau tidak sadar membuat keberadaan mereka dan, bila diberikan pada keadaan yang tepat, dapat menciptakan kembali keberadaan mereka-dengan kata lain, perubahan. Sebagian besar pendekatan eksistensial-humanistik percaya bahwa ada kecenderungan bawaan bagi individu untuk mengaktualisasikan diri untuk memenuhi potensi mereka jika mereka diberikan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan (Maslow, 1968, 1970).
6.
Peran & Fungsi Konselor
1.      Memahami dunia klien dan membantu klien untuk berfikir dan mengambil keputusan atas pilihannya yang sesuai dengan keadaan sekarang.
2.      Mengembangkan kesadaran, keinsafan tentang keberadaannya sekarang agar klien memahami dirinya bahwa manusia memiliki keputusan diri sendiri.
3.      Konselor sebagai fasilitator memberi  dorongan dan motivasi agar klien mampu memahami dirinya dan bertanggung jawab menghadapi reality.
4.      Membentuk kesempatan seluas – luasnya kepada klien, bahwa putusan akhir pilihannya terletak ditangan klien.
7.
Hubungan Konselor
1.      Adanya hubungan psikologis yang akrab antara konselor dan klien.
2.      Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problemnya dan apa yang diinginkan.
3.      Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan.
4.      Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan yang diadakan.
5.      Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya juga keadaan lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor.
8.
Tahap Konseling
1.      Tahap Awal
Konselor membantu klien dalam hal mengidentifikasi dan mengklarifikassi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menanyakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima. Konselor mengajar mereka bagaimana caranya untuk becermin pada eksistensi mereka sendiri dan meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
2.      Tahap Pertengahan
klien didorong semangatnya untuk lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari system nilai mereka. Proses eksplorasi diri ini biasanya membawa klien ke pemahaman baru dan beberapa restrukturisasi dari nilai dan sikap mereka. Klien mendapatkan cita rasa yang lebih baik akan jenis kehidupan macam apa yang mereka anggap pantas.
3.      Tahap Akhir
menolong klien untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi adalah memungkinkan klien untuk bisa mencari cara pengaplikasian nilai hasil penelitian dan internalisasi dengan jalan yang kongkrit. Biasanya klien menemukan kekuatan mereka dan menemukan jalan untuk menggunakan kekuatan itu demi menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.
9.
Teknik Konseling
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1.     Penerimaan
2.     Rasa hormat
3.     Memahami
4.     Menentramkan
5.     Memberi dorongan
6.     Pertanyaan terbatas
7.     Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
8.  Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9.     Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.
10.
Kelebihan & Kelemahan
Kelebihan  :
1.      Selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipatif-dialogis dan humanis.
2.      Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.
3.      Keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

Kelemahan  :
1.      Teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah.
2.      Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
3.      Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis
4.      Bersifat individual
5.      Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung
6.      Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis
7.      Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri meraka